Senja dan alam

Puasa Pertama Yang Gagal: Kisah Pemula Dalam Hijrah Ramadan

Journaling

Sejak kepindahannya dari ibukota ke suatu kota kecil di propinsi sebelah, Adrian bertekad akan memulai semuanya dari awal. Tahun ini adalah janji kesekian kalinya dari dirinya untuk bisa beribadah puasa lagi.

Lagi? Iya benar … Adrian sudah lama jauh meninggalkan ibadah sejak dia mengenal narkoba Saat duduk di bangku kelas 10. Jangankan puasa, sholat lima waktu yang seharusnya dilakukan setiap hari itu hanya jadi kenangan masa kecil di pesantren kampung. Tepat enam bulan lalu, sebuah tayangan Youtube yang membahas tentang hijrah mengubah segalanya.

“Islam itu bukan agama orang tua, tapi pilihan jiwa”

Hatinya tergerak. Ada resah yang menerpa jiwanya. Adrian kalut dan bimbang. Dia merasa harus keluar dari circle pertemanan yang membuatnya mau tidak mau untuk meningggalkan kota itu. Harapan satu-satunya adalah kampung abang iparnya, di sebuah desa di kota kecil yang tenang.

Di kota abang ipar, Adrian mulai berpikir untuk mencari pekerjaan penuh waktu. Dia tidak mau hanya jadi beban di keluarga kakaknya yang pas-pasan. Dengan ijasah PKBM yang dimiliki, rasanya tidak terlalu susah baginya untuk mencari pekerjaan. Entahlah apa memang seperti itu atau bukti jika ini adalah jalan Allah sebagai awal dari kesungguhan niat Adrian untuk berubah. Wallahu’alam.

Hari Pertama Ramadhan

Hari pertama Ramadhan, awal proses hijrah Adrian, tiba di tahun 2026. Tak terasa sudah 5 bulan Adrian bekerja di sebuah restoran sebagai tukang masak. Gajinya memang masih kecil, maklum UMP di propinsi ini jauh lebih kecil daripada di Jakarta.

Adrian bangun jam 3 pagi, mata masih setengah merem. Hari ini kebetulan dia dapat jadwal kerja shift pagi jadi Adrian masih bisa sahur di rumah. Sahur pertamanya sederhana: sepiring nasi putih yang ditemani telor dadar dan segelas air putih. Tidak ada kemewahan di rumah ini. Menu ala kadarnya yang konon banyak diminati oleh para ibu karena simple dan cukup bergizi itu meluncur mulus ke dalam lambung kecilnya. Dalam hatinya berharap dia akan bisa melewati jam-jam penuh perjuangan di restoran tempatnya bekerja nanti.

Sahur sepring nasi dan telur dadar

Azan subuh pun menggema dari ponselnya. Setelah menggelar sajadah lusuhnya, Adrian mulai menunaikan sholat 2 rakaat yang dilakukannya dengan buku panduan sholat yang diletakkan di atas sajadah. Belajar membiasakan lagi, dengan perut yang tiba-tiba berbunyi nyaring. “Ngga apa-apa sih ini, masih aman. Aku pasti bisa tahan”, kata Adrian dalam hati.

Suasana di Restoran

Tantangan pertama datang lebih cepat dari yang perkiraan. Adrian datang ke resto jam setengah 10 pagi. Jam kerjanya dimulai dari jam 10 selama 8 jam kedepan. Tidak seperti biasanya, panas matahari pagi itu sangat menusuk kaca dapur resto yang sudah dibuka beberapa spot untuk ventilasi udara. Mulut Adrian kering, bibirnya pecah, bajunya mulai basah sejak beberapa meter dari resto saat dia mengayuh sepedanya. Beruntung teman kerjanya pagi itu kooperatif, sama-sama berpuasa sehingga aman dari godaan cemilan dan lain-lain.

Koki masak

Mendekati dhuhur, ujian itu datang kembali. Ada seorang customer datang dengan anak kecil yang membawa es krim. “Duh, alangkah segarnya es krim itu,” batin Adrian saat dia melihatnya dari pintu dapur yang sedikit terkuak. Hawa panas di luaran seakan dilipatgandakan di dalam dapur yang tak begitu luas. Nyalinya ciut, membayangkan panasnya api neraka kelak saat dosanya tak terampuni. Pasti panasnya beribu-ribu kali lipat dari siang ini. Tubuhnya protes keras. Dehidrasi membuatnya berkali-kali pergi ke toilet. “Ya Allah, ini baru hari pertama,” kata Adrian dalam hati.

Ujian kedua datang saat Dion datang ke resto untuk pesan makanan. Dion adalah teman kerja di resto yang sama, hanya saja hari ini dia sedang off  dan memilih untuk sidejob sebagai driver salah satu aplikasi online. Dion muslim, tetapi dia sama seperti aku dulu … muslim ktp. Sambil cuci tangan, Dion melongok sebentar ke dapur.

“Yan, mau rokok ngga? Nih aku ada stok. Ambil aja,” katanya sambil menyerahkan bungkus rokok padaku. “Sori, aku lagi serius hijrah. Aku lagi puasa,” jawabku. Dion hanya tertawa sambil memasukkan bungkus rokok ke dalam kantong celananya.

Adrian menghela nafas. “Kenapa hidup harus susah begini? Puasa kok kayak siksaan.” Hampir saja dia membatalkan puasanya. Mulutnya terasa pahit, yang hanya akan hilang kalau sudah ada sebatang rokok dijepit disela jari-jarinya.

Hari Kedua Ramadan

Memasuki hari kedua, Adrian tampak lebih siap. Sahur pagi tadi dengan ubi kukus, sayuran dan telur rebus, hasil membaca artikel di sebuah web. Tak lupa juga 2 gelas air putih, jaga-jaga jika cuaca siang nanti panas sekali seperti kemarin. Godaan hari kedua tak kalah serunya, justru datang dari rekan kerjanya yang perempuan, dengan tenangnya minum es teh di depan muka Adrian.

Adrian tersenyum, dia tau Rina temannya itu sedang berhalangan. “Alhamdulillah, aku bisa melewati hari kedua dengan lancar,” gumam Adrian sambil duduk di sofa lusuh yang ada diruang tamu rumah kakaknya.

Puasa pertama Adrian tidak sempurna, bahkan di hari keempat dia sempat lupa minum air menjelang maghrib. Dia berpikir sudah memasuki azan maghrib karena sayup-sayup telinganya sempat mendengarnya tadi. Rupanya hanya halusinasi sesaat dari alam bawah sadarnya.

Bagi Adrian, tantangan terberat bagi pemula Ramadan seperti dia bukan fisik, melainkan konsistensi melawan diri sendiri. “Hijrah itu marathon, bukan sprint” katanya pada cermin.

Puasa pertama gagal? Lanjutkan saja. Semua proses itu akan tercatat di Yaumul Akhir nanti.

Buat yang baru hijrah, selamat berjuang. Ramadanmu baru dimulai. Semangat!

((Challenge Menulis IIDN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *