Ramadhan tahun ini adalah Ramadhan pertama setelah melepas status sebagai ibu pekerja diluar rumah 2 tahun terakhir. Rasanya seperti terbebas dari belenggu kesibukan yang sangat luar biasa. Fisik mulai terbiasa lagi dengan rutinitas pagi sebelum bekerja, jogging tipis-tipis keliling kampung. Hatipun mulai tertata, hidup tenang tanpa dibayang-bayangi notif whatsapp yang rasanya seperti teror sepanjang waktu. Jujur saja, alasan utama aku resign dari pekerjaan terakhirku karena ingin menjalani Ramadhan berikutnya dengan benar, syukur-syukur bisa khusuk ibadahnya untuk mencapai target spiritualku dan memperkuat perjalanan spiritual.
Alhamdulillah tahun ini Allah masih kasih kesempatanku untuk bertemu dengan Ramadhan kembali. Bulan suci ini adalah kesempatan emas untuk reset spiritual dan lebih mendekatkan diri pada Allah SWT. Ramadhan bukan sekedar perlombaan fisik yang menuntut kita untuk terus berlari tetapi target ibadah menjadi nyata dan berkelanjutan, membawa kita pada kedamaian spiritual.
“Pernahkah kita bertanya pada hati yang paling dalam: kemana perginya rasa tenang itu?”
Menghadapi tantangan hidup dengan fokus pada tujuan spiritual yang lebih tinggi dapat memberikan makna yang lebih dalam dalam setiap langkah kita.
Seringkali, di tengah keriuhan ibadah yang bersifat seremonial, ada bagian dari sisi spiritual kita yang justru tertinggal. Kita begitu fokus pada “apa yang terlihat” oleh orang lain atau sekadar menggugurkan kewajiban, hingga lupa pada esensi “penyembuhan” yang ditawarkan bulan suci ini.
5 Target Spiritual Sederhana
Ramadan bukan hanya soal menahan lapar di perut, tapi tentang bagaimana caraku memberi makan pada jiwa yang selama sebelas bulan ini mungkin merasa lelah, patah, atau kehilangan arah. Tahun ini, kugeser sedikit fokusnya dengan 5 target sederhana—yang mungkin tidak tampak megah di mata manusia—namun memiliki daya ubah yang luar biasa bagi ketangguhan iman dan emosi kita.
Target sederhanaku dimulai dari sesuatu yang sebenarnya sudah kulakukan, yaitu:
1.Merutinkan kebiasaan tahajud setiap malam
Tahajud belum terbiasa kulakukan setiap hari di 11 bulan sebelum Ramadan. Sering alarm hanya kumatikan setiap kali berdering meskipun mata ini sudah melihat tulisan ayo tahajud disana. Kucoba merutinkan kembali dengan tahapan awal membaca surah Al-Mulk sebelum tidur untuk memudahkan bangun.
2.Mengurangi interaksi dengan sosial media
Mengurangi disini bukan mengurangi kualitas tetapi kuantitas waktu. Scroll sesuatu yang tak perlu, menahan diri untuk tidak berkomentar negatif, dan tidak membagikan berita hoax. Aktivitas yang hilang itu diganti dengan satu dzikir setiap kali tangan ini ingin membuka aplikasi yang memicu keresahan hati.
3.Sedekah subuh secara konsisten
Jika tahun lalu aku melakukan hal ini dengan menabung 10.000 setiap hari di kaleng sedekah subuh, tahun ini akan kucoba dengan cara lain. Sedekah rutin akan kutransfer via app seperti KitaBisa atau dompet fisik dengan prioritas yatim piatu dan masjid terdekat.
4.Manajemen Emosi (The “Sabar” Project)
Banyak yang berhasil menahan lapar, tapi gagal menahan amarah. Saat lelah bekerja di tengah puasa atau terjebak macet menjelang berbuka, di situlah ujian spiritual sesungguhnya berada. Kesabaran bukan berarti menahan emosi hingga meledak, tapi mengolah rasa sesak itu menjadi sebuah penerimaan. Saat mulai merasa kesal, biasanya aku diam sejenak. Sambil mengingat bahwa menjaga pahala puasa jauh lebih penting daripada memenangkan sebuah argumen.
5.Evaluasi harian dan doa spesifik (Personal Talk with Allah)
Doa sering kali menjadi rutinitas yang dihafal tanpa rasa. Padahal, Allah merindukan percakapan jujur dari hamba-Nya. Akan kubiasakan menulis 3 doa spesifik yang ingin aku langitkan di waktu mustajab seperti saat sahur atau sesaat sebelum berbuka. Untuk evaluasi harian akan kutulis di note yang ada di hp agar menjadi pengingat suatu saat nanti.
Target sederhanaku memang sangat sederhana. Masih banyak keinginan yang ingin kuwujudkan seperti ingin khatam minimal 1x selama Ramadhan ini. Tapi aku sadar diri, bukan pesimis, jika aku adalah manusia penuh dengan dosa yang punya niat ingin menjadi lebih baik lagi.
Ramadan adalah perjalanan untuk kembali menemukan diri kita yang fitrah. Tidak perlu muluk-muluk mengejar angka jika hati belum tertata. Mulailah dari yang sederhana, karena sesuatu yang dilakukan dengan cinta dan konsistensi, sering kali memiliki dampak yang lebih abadi.
((Challenge Menulis IIDN))