Di tengah hiruk pikuk bulan puasa, saat adzan maghrib menggema, berbuka menjadi panggung utama drama keluarga. Ada satu musuh tak kasat mata di dapurku, Musuh itu bukan karena harga telor ayam yang melambung naik sejak ada MBG, tetapi rival abadiku yaitu pak Min, penjual sop ayam legendaris di seberang gang rumahku. Pertarungan rasa tak pernah usai, dan aku? Selalu kalah telak.
Sudah bertahun-tahun kucoba menyingkirkan dominasi rasa sop ayam pak Min dan hasilnya ya masih sama aja. Pak Min masih menang di lidah suami dan anak-anak.
Pertarungan ini biasanya dimulai setelah sholat ashar. Di dapur, saya sudah siap dengan “persenjataan” lengkap. Ayam kampung muda yang sudah dipotong kecil-kecil, wortel impor yang warnanya oranye cerah, kentang yang dipotong dadu presisi, hingga daun seledri yang saya pilih helai demi helai kesegarannya. Aroma daun bawang segar menari di udara sekitar dapur.
Sop Ayam Buatanku vs Sop Ayam Pak Min
Sebagai ibu yang (berusaha) sadar gizi, saya punya idealisme tinggi. Kaldu saya harus bening, hasil rebusan api kecil berjam-jam (slow cooking) untuk mengeluarkan sari pati tulang tanpa perlu banyak penyedap rasa. Bumbu tumisnya pun saya takar dengan hati-hati: bawang putih geprek, lada butir yang diulek kasar, pala sedikit saja agar tidak getir, dan jahe parut halus untuk menghangatkan perut kosong setelah seharian berpuasa.
Aroma sop ayam buatanku memang harum. Wanginya lembut, sopan, dan menenangkan. Ayam berlemak tipis, rasa kaldunya nendang, tidak pakai pengawet. Aku membayangkan, saat bedug Maghrib nanti, keluargaku akan menghirup kuahnya, memejamkan mata, dan berkata, “Wah, ini jauh lebih enak daripada sop di luar sana!”
Namun, realitas sering kali punya skenario berbeda. Saat waktu berbuka tiba, tersajilah semangkuk besar sop ayam buatan rumah di meja makan, berdampingan dengan tempe goreng dan sambal kecap. Suami saya mengambil satu sendok kuah, menyeruputnya, lalu mengangguk.
“Enak, Ma. Segar banget ini kuahnya,” katanya. Komentar standar yang aman.
Lalu anak bungsuku , dengan kejujuran khas anak muda yang belum terkontaminasi basa-basi birokrasi, menambahkan, “Iya enak. Tapi kok rasanya beda ya sama sopnya Pak Min? Kalau Pak Min itu kuahnya lebih ‘nendang’ gitu lho, Bu. Lebih gurih dan bikin nagih.”
Jleb. Aku hanya terdiam.
Pertarungan Yang Tak Pernah Usai
Mengapa pertarungan ini tak pernah usai?
Disitulah letak kekalahanku. Kata “gurih” itu adalah kode keras. Saya tahu rahasia “gurih”-nya sop langganan. Itu adalah perpaduan magis antara rebusan ribuan ekor ayam dalam satu panci raksasa, minyak bawang yang tidak pelit, dan tentu saja (mari kita realistis) taburan “kristal putih penyedap rasa” yang takarannya mungkin membuat ahli gizi mengernyitkan dahi.
Sop buatan saya terlalu “bersih”. Terlalu higienis. Terlalu sopan. Ia kurang “nakal” di lidah.
Puasa mengajarkan kita tentang pilihan. Sop rumahan simbol kebersamaan, pengorbanan diam-diam seorang ibu yang rela bangun subuh demi keluarga. Mengingatkan masa kecil, saat anak-anak berebut potongan ayam pahanya. Sop langganan wakili dunia luar: cepat, mudah, tapi tetap nikmat. Saat lapar menguji kesabaran, keduanya hadir sebagai penyelamat. Tak ada pemenang mutlak, yang menang adalah rasa syukur setiap suapan.
Berdamai Dengan Diri
Awalnya, saya merasa gagal. Bukankah masakan ibu seharusnya menjadi juara satu di hati keluarga? Bukankah narasi di iklan-iklan sirup dan bumbu masak selalu bilang “tiada yang menandingi masakan Ibu”?
Kenapa sop ayam buatanku yang penuh cinta dan gizi seimbang ini kalah telak oleh sop ayam pinggir jalan yang dimasak massal? Sop ayam langganan menawarkan rasa yang kuat, dan memanjakan lidah yang seharian terasa pahit karena puasa. Itu adalah rasa “festival”, rasa perayaan kecil. Sementara sop ayam rumahan ala aku menawarkan rasa “pulang”. Ia tidak meledak-ledak di mulut, tapi ia menghangatkan lambung tanpa rasa haus berlebihan setelahnya. Mungkin aku memang tidak akan pernah memenangkan pertarungan rasa melawan MSG dan teknik masak massal para pedagang legendaris itu. Dan itu tidak apa-apa.
Seorang berjalannya waktu, aku melihat mereka tetap lahap menghabiskan nasi dengan kuah sop buatanku meski sambil sesekali membahas betapa kangennya mereka pada sate telornya Pak Min. Aku merasa kekalahan di lidah terbayar lunas saat melihat mangkuk sop di meja perlahan kosong. Aku mulai berdamai dengan keadaan dan menyadari bahwa ini bukan sekadar tentang rasa di lidah. Ini tentang memori dan kenyamanan.
Jadi, untuk sop ayam Pak Min, kuangkat topi setinggi-tingginya dan bilang bahwa mereka memang juara di lidah anak-anakku. Tapi untuk urusan siapa yang rela bangun jam 3 pagi memanaskan kuah agar mereka bisa sahur dengan nyaman? Maaf, itu piala tetap milikku.
Dan malam ini, di meja makan sederhana kami, meskipun bukan sop ayam terbaik di dunia, setidaknya ini adalah sop ayam yang dibuat dengan doa terbaik seorang ibu. Itu sudah lebih dari cukup.
Pertarungan rasa ini abadi, seperti puasa yang tak lekang. Ia mengajarkan bahwa yang terbaik bukan soal enak di lidah, tapi hangat di dada.
Mana favoritmu, sop rumahan atau langganan?
((Challenge Menulis IIDN))
