Ramadan selalu membawa aroma magis bagi anak kecil seperti saya dulu, Kenangan abadi yang terbentuk dari serangkaian ritual kegiatan selama Ramadan. Dua momen yang paling membekas adalah buku catatan Ramadan khusus yang saya bawa kemana-mana dan tarawih di rumah tetangga yang selalu diakhiri dengan jajanan menggoda.
Buku Kegiatan Ramadhan
Jika ada benda yang paling berharga skaligus menakutkan bagi anak-anak SD era 90an bukan ujian Matematika tetapi sebuah buku tipis dengan sampul bertuliskan “Catatan Kegiatan Ramadhan”. Isi bukunya tentang checklist ibadah apa saja yang sudah kita lakukan dirumah mulai dari sholat 5 waktu, sholat Dhuha, sholat tarawih, dan tadarus.
Bagi kami buku itu jadi paspor sakti yang akan bersaksi bahwa kami berpuasa dan menjalani ibadah lainnya selama bulan Ramadan. Setidaknya di mata guru agama yang akan menagih usai lebaran nanti.
Saya ingat betul bagaimana rasanya duduk di saf anak-anak, berdesak-desakan dengan mukena yang seringkali melorot atau terinjak teman sendiri. Saat penceramah mulai naik mimbar dan mengucapkan salam, suasana berubah hening sejenak, lalu sret… sret… sret… suara kertas dibalik serentak terdengar. Kami semua membuka halaman “Laporan Salat Tarawih”.
Buku itu menjadi sahabat setia saya sehari-hari. Setiap kali ada pengajian atau kajian di masjid kampung, saya duduk di barisan depan, pensil di tangan, siap meringkas materi pembicara. Tantangan yang mengasikkan sih, karena dari dulu sudah senang dengan menulis. Ustadz atau kyai yang datang biasanya bicara tentang sabar, puasa, shalat malam, atau kisah Nabi Yusuf di sumur. Saya tulis inti-intinya dengan huruf besar: “Sabar itu indah seperti bunga mekar setelah hujan.” Kalimat-kalimat itu saya ringkas sebisanya karena tempat untuk menulis juga tidak banyak. Benar-benar catatan singkat atau inti sarinya.
Tanda Tangan Berharga Pak Ustadz
Drama sesungguhnya baru dimulai setelah salat witir usai. Begitu imam mengucap salam terakhir, saf anak-anak langsung bubar barisan. Bukan untuk pulang, melainkan berlari menyerbu mimbar. Bayangkan, seorang ustaz tua yang lelah setelah memimpin 23 rakaat, tiba-tiba dikerumuni puluhan bocah yang menyodorkan buku dan pulpen ke wajahnya secara bersamaan. “Pak, minta tanda tangan, Pak!” teriak kami bersahutan.
Pak ustadz tersenyum, ambil pulpen dan coret-coret nama lengkap dengan doa singkat. Ada sensasi lega yang luar biasa saat melihat goresan tinta beliau mendarat di kolom yang disediakan. Rasanya seperti baru saja menyelesaikan misi kenegaraan yang amat penting.
Buku itu cepat penuh, setiap halaman jadi galeri tanda tangan dari berbagai pembicara. Saya hitung: satu Ramadhan bisa kumpul 20-30 tanda tangan! Malam-malam, sebelum tidur, saya baca ulang catatan itu di bawah lampu bohlam redup. Rasanya seperti punya harta karun pribadi, bukti bahwa saya ikut serta dalam keagungan Ramadan.
Tarawih dan Jajanan
Di kampung saya, selain di masjid atau mushola, tarawih juga dilakukan di rumah tetangga yang notabene tokoh masyarakat yang disegani. Bagi kami anak-anak, pemilihan lokasi tarawih ini sedikit politis. Bukan karena bacaan imamnya yang bagus-bagus atau ada AC di tempat sholatnya, tetapi ada jajanan atau tidak.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, momen tarawih dengan jajanan di tangan setelah tarawih adalah dambaan anak-anak seusia saya. Saya masih ingat ada satu rumah tetangga yang selalu menjadi favorit. Pemilik rumah ini dikenal darmawan luar biasa. Namanya Pak Sarimin. Beliau hanya punya 1 anak tetapi dirumah beliau ramai dengan adik ipar, para keponakan, adik kandung yang ikut tinggal disana. Jadi sebenarnya tanpa kedatangan para tetangga sih seharusnya cukup bagi mereka untuk melaksanakan sholat tarawih berjamaah.
Setiap malam tarawih disana, beliau tidak pernah absen memberikan ‘bingkisan’ bagi semua jamaah. Isinya sederhana saja, kadang bolu kukus dan martabak, kadang risoles dan kue bolu. Semua jamaah senang menerimanya. Disiapkan juga teh manis hangat. Ada sebuah ketulusan disana yang kami rasakan setiap malam.
Kini, setelah lebih dari tiga dekade, Ramadhan terasa berbeda. Tak ada lagi buku catatan hijau, tak ada tanda tangan ustadz di halaman kusut. Buku kegiatan itu mungkin sudah hilang entah dimana. Sampai sekarang di rumah pak Sarimin masih tetap menggelar sholat tarawih berjamaah meski tidak seramai dulu.
Namun, memori tentang riuh rendahnya memburu tanda tangan dan manisnya kue bolu tetangga akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari cerita saya saat tumbuh dewasa. Sebuah kepingan nostalgia yang mengingatkan bahwa kebahagiaan, dulu, sesederhana tinta pulpen di atas kertas buram dan sepotong jajanan pasar.
Kenangan kecil itu mengajarkan arti Ramadhan sesungguhnya: bukan sekadar ibadah, tapi ikatan hati dengan keluarga dan tetangga. Buku catatan mengajari disiplin dan ilmu, sementara jajanan tarawih ajarkan berbagi kebahagiaan.
Puasa bukan akhir, tapi awal cerita indah yang akan terulang.
((Challenge Menulis IIDN))

