“Benarkah menulis itu mudah?”
Kira-kira apa jawaban untuk pertanyaan diatas jika itu ditujukan ke kita? Beragam pastinya, ada yang menjawab “Oh mudahlah itu, tinggal gores pena saja”, ada juga yang menjawab “Susah pakai banget. Rasanya semua ide sudah ada di pikiran tapi tidak keluar juga jadi tulisan”, bahkan sudah ada yang pesimis duluan dengan menjawab “Saya tidak bisa menulis kak”.
Kalau buat saya, jika hanya menulis sih itu mudah ya, semudah kita bercerita secara verbal mengeluarkan semua yang kita rasakan. Bedanya ini dituangkan dalam bentuk coretan pena atau ketikan MS Word yang biasa kita lakukan sehari-hari.
Bagi saya, menulis itu seperti healing. Menceritakan segala yang ada di pikiran kita agar tetap waras sepanjang hayat. Pokoknya tulis aja dulu, tulis dan tulis sampai jari ini berhenti bergerak sejenak. Lupakan proses editing untuk sementara waktu hingga tiba waktunya duduk manis memindai kata per kata yang sudah disusun.
Bagaimanapun juga kita harus paham teknis bercerita yang baik agar pesan yang ingin kita bagikan akan tersampaikan dengan baik. Untung menjadi penulis handal memang diperlukan jam terbang yang tinggi, selain juga menguasai teknik kepenulisan yang mumpuni.
Kalau saya bukan termasuk yang handal lho ya, ilmu menulis masih jauh banget dari kata hebat. Sebagai orang yang ekspresif, saya harus sering-sering mengeluarkan ‘sampah’ dari dalam pikiran dan hati. Nah, gayung bersambut tatkala berkesempatan mengikuti workshop Peningkatan Kapasitas Penulisan Untuk Komunitas yang diadakan oleh BKHM Kementrian Pendidikan, Budaya, Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) di Jakarta pada tanggal 3-5 Juli 2024. Workshop dihadiri oleh perwakilan komunitas seperti Sidina Community (saya salah satunya yang terpilih), Kami Pengajar, Momakece Community, Pemuda Pelajar Merdeka, Guru Konten Kreator, dan lainnya. Salah satu materi yang diberikan adalah teknik bercerita (story telling) yang disampaikan oleh Bapak Dwi Santoso dari Kumparan.

Menurut Pak Dwi, sebelum bercerita kita harus mengetahui terlebih dahulu kerangka cerita yang akan kita sampaikan. Secara umum, kerangka cerita dibagi menjadi 3 yaitu : introduksi, konflik dan konklusi. Introduksi itu perkenalan karakter, situasi, substansi, dan sejenisnya. Setelah kita susun, maka kita lanjutkan dengan memilih apa yang akan kita jadikan konflik cerita itu berdasarkan naskah atau skrip yang sudah kita buat.
Konflik ini bisa berupa masalah pada karakter, masalah pada keadaan, kondisi tidak menjalankan substansi dan seterusnya. Bagian terakhir adalah konklusi, yang biasanya berisi akhir dari masalah, jawaban dari pertanyaan, penjelasan dari sebuah substansi. Konklusi ini akan terasa lebih menarik perhatian pemirsa jika akhir ceritanya di luar dugaan pemirsa, yang biasa dikenal dengan istilah twist.

Menjadikan sebuah cerita menjadi menarik itu sebenarnya penuh tantangan ya, apalagi kalau nulis cerita fiksi. Aku sering menggunakan plot twist di bagian konklusinya. Terkadang itu terjadi tidak disengaja gara-gara saat nulis teringat pengalaman teman yang curhat, atau melihat pemandangan berbeda saat berada di suatu tempat. Sering juga itu terjadi karena pikiran sudah buntu he he he. Kalau sudah begitu, secangkir kopi menjadi teman terbaik untuk mengembalikan ide-ide yang terlanjur menguap.
Seperti pesan Pak Dwi saat pelatihan kemarin, arahkan pesan dari cerita kita ke “heart” dahulu baru ke “head” karena ternyata pembaca akan lebih mudah menerima pesan yang mudah mengena dibanding dengan yang mudah mengerti.
Masih bingung mau menulis dari mana? Yuk gerakkan jarimu. Ingat ya, tulis dulu, edit belakangan setelah seruput kopi hitammu.