Sefruit Asa Dari Lereng Pegunungan Menoreh

Journaling Pendidikan

Perjalanan siang itu kutempuh sendirian. Tidak seperti biasanya, dimana formasi kami para fasilitator saat bertugas minimal 2 orang bahkan bisa lebih. Dengan membawa setumpuk pesan moril yang akan kusampaikan di salah satu Sekolah Menengah Pertama Negeri di Kabupaten Kulon Progo, kujalankan kuda besiku menyusuri jalanan perkotaan hingga memasuki wilayah lereng pegunungan Menoreh. Jalanan yang meliuk-liuk, menanjak cukup terjal mewarnai perjalananku. Semangat, itu pasti. Niat tulus ingin berbagi ilmu selalu terpatri dalam hatiku, seperti apa yang dulu disampaikan oleh almarhum bapak.

Pegunungan menoreh

Jarak 37 kilometer yang kutempuh dalam waktu 1 jam 15 menit akhirnya mencapai garis finish. Kulihat ada beberapa orang tua siswa yang sudah datang dan bercengkerama di halaman sekolah. Sesekali aku mendengar sedikit obrolan mereka, “Wah dengaren iki sekolah ngadakno acara ngene. Mengko arep ngomongke opo yo? Trus pembicarane jare seko kota?” kira-kira kalau diartikan seperti ini : wah, tumben sekolah mengadakan acara ini. Nanti mau membicarakan apa ya? Trus pembicaranya katanya dari kota.

Saya pun tersenyum saja mendengarnya. Percakapan sederhana antara orang-orang yang sederhana pula. Kulangkahkan kaki menuju ruang tempat kami akan berkolaborasi apik. Kami? Betul. Kami adalah pihak sekolah dan orang tua. Sekolah mengundang orang tua atau wali siswa agar mereka memahami bagaimana peran keluarga di dalam merawat dan mendidik anak-anak ketika berada di rumah.

Mengenal Kurikulum Merdeka

Pada kesempatan itu saya menjelaskan tentang masa transisi perubahan kurikulum karena efek dari pandemi COVID 19 yang mengakibatkan terjadinya learning loss yang cukup signifikan. Juga menjelaskan kepada orang tua tentang stigma yang salah bahwa ganti Menteri akan ganti kurikulum, agar para orang tua paham bahwa kurikulum yang ada harus disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat itu sehingga ada kebijakan implementasi Kurikulum Merdeka (KurMer) di lingkungan sekolah.

Sosialisasi kurikulum merdeka

Keunggulan Kurikulum Merdeka

Ada beberapa keunggulan dari Kurikulum Merdeka antara lain: (1) lebih sederhana dan mendalam, karena fokusnya ke materi yang esensial dan pengembangan potensi peserta didik pada fasenya; (2) lebih merdeka, karena tidak ada peminatan di SMA, guru mengajar sesuai CP, sekolah berwenang mengelola kurikulum sesuai karakteristik satuan pendidikan; dan (3) lebih relevan dan interaktif, karena siswa bisa berpartisipasi aktif mengeksplorasi isu aktual untuk mendukung pengembangan karakter. Bapak Ibu guru juga dibebaskan untuk mengajar menggunakan ide kreatif dan bahan ajar yang ada di lingkungan sekitar.

Apakah P5 itu?

Selain pengenalan lebih mendalam tentang KurMer, saya juga menyampaikan tentang kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5). Berdasarkan pedoman Kemendikbudristek Nomor 56 Tahun 2022, Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) adalah kegiatan kokurikuler berbasis projek yang dirancang untuk menguatkan upaya pencapaian kompetensi dan karakter sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang disusun berdasarkan Standar Kompetensi Lulusan.

Projek ini melibatkan siswa agar aktif berperan didalamnya. Dalam penerapan P5 kurikulum merdeka, terdapat empat prinsip penting yaitu : holistik, kontekstual, berpusat pada peserta didik, dan eksploratif. Kegiatan P5 ini tentu saja membutuhkan peran serta ketiga pihak yaitu orang tua, siswa, dan pihak sekolah. Keterlibatan banyak pihak dalam mendidik anak sangat diperlukan meskipun kita semua tahu bahwa pendidikan karakter anak dimulai dari keluarga inti alias didikan kedua orang tuanya.

Kegiatan P5 itu seperti apa sih?

Mungkin bapak ibu bertanya-tanya, seperti apa gerangan bentuk kegiatan P5 itu. Di forum juga banyak pertanyaan yang sama yang dilontarkan orang tua siswa. Lebih banyak keluh kesah yang disampaikan, tentang rumor konsep acara yang rumit, biaya yang menurut mereka sangat besar, dan paling menyedihkan buat saya ternyata masih ada anak yang kurang suka dengan project ini.

Ah, anak itu pasti menyesal nantinya jika tahu kalau kegiatannya sangat mengasikkan dan seru.

Seperti yang saya jelaskan diatas, kegiatan dalam sebuah proyek akan mengajak siswa untuk berpartisipasi merencanakan pembelajaran secara aktif dan berkelanjutan, mengembangkan keterampilan, sikap, dan pengetahuan yang dibutuhkan dalam mengerjakan project pada periode waktu tertentu serta melatih kemampuan pemecahan masalah dalam beragam situasi belajar.

Tidak perlu kegiatan yang super wah yang menghabiskan banyak dana. Dengan memanfaatkan sumber daya alam sekitar pun kita dapat membuat project yang mengasikkan untuk anak-anak. Tidak perlu mendapatkan hasil yang sempurna di akhir, tetapi anak diajarkan untuk paham arti sebuah proses, berpikir kreatif, belajar mencari solusi dan menyimpulkan. Harapannya nanti saat mereka dewasa, critical thingking-nya sudah terasah sejak dini.

Lega rasanya bisa sharing ilmu dan pengalaman saya dalam membersamai anak-anak dirumah. Saya salut dengan semangat para orang tua di sekolah yang saya datangi. Dalam kesederhanaan profesi mereka yang mayoritas petani dan buruh, tidak ada rasa lelah dalam mendidik anaknya, tentu saja dengan versi terbaik yang dimiliki.

Semangat ya Bapak dan Ibu…pahami anak kita dan temukan potensi terbaiknya agar kelak menjadi siswa hebat yang mewakili profil Pelajar Pancasila.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *