Bumi yang kita huni sekarang tak seperti dulu. Tidak bisakah menanam harapan untuk bumi kita melalui Program Hijau?
Program hijau is an essential initiative that encourages sustainable practices in our daily lives.
Dengan adanya Program Hijau, kita dapat berkontribusi lebih untuk lingkungan.
Bagaimana tidak, di tengah padatnya penduduk Indonesia dengan berbagai macam karakter sangat membawa dampak serius bagi kelestarian lingkungan hidup sekitar. Masalah yang dihadapi pemerintah pusat maupun daerah begitu besar dan masif, tidak jauh-jauh dari masalah sampah dan tata cara pengolahannya.
Pembelajaran Penting Dalam Keluarga
Di tengah meningkatnya volume sampah terutama sampah rumah tangga, setiap keluarga tertantang untuk lebih kreatif mengelola sampah demi kelestarian lingkungan. Tidak hanya cukup dengan menggunakan produk ramah lingkungan, yang lebih penting menanamkan kebiasaan baik ke semua anggota keluarga terutama anak-anak. Sebagai orang tua, penting untuk memahami 4 kerangka pembelajaran mendalam (deep learning) yang dijadikan acuan penting dalam membersamai anak-anak. Kerangka ini diadaptasi dari Four Elemens of Learning Design.
Implementasi prinsip dari Program Hijau tidak hanya mengedukasi tetapi juga memberdayakan potensi anggota keluarga.
Kerangka Kerja Pembelajaran Mendalam: Prinsip Berkesadaran, Bermakna, dan Menggembirakan untuk Membentuk Pembelajar Seutuhnya (Kemdikdasmen Republik Indonesia)
Pembelajaran akan kesadaran cinta bumi dan lingkungan pada anak-anak akan terasa lebih maksimal hasilnya jika dimulai sedini mungkin. Anak dilatih untuk paham apa arti lingkungan sekitar untuk kehidupan mereka pada umumnya, dan makhluk hidup lain yang ada di bumi.
Secara kodrat, anak itu adalah peniru ulung, apalagi jika mulai memasuki masa-masa golden age. Segala hal yang dilihat dari lingkungan sekitar akan dengan mudah diserap, dipahami, dan ditiru. Mereka mampu berpikir logis sesuai dengan usianya. Rumah adalah madrasah pertama yang akan melatih kemampuan berpikir kritis mereka hingga saat dewasa nanti kebiasaan baik itu akan terus berlangsung. Fokus akhir dari pembelajaran ini adalah mendapatkan profile anak yang mempunyai karakter yang ada dalam Dimensi Profil Lulusan.
Dimensi Profil Lulusan (Sumber Datadikdasmen)
Belajar Memahami, Mengaplikasi dan Merefleksi
Dalam konteks belajar peduli lingkungan, anak-anak akan mulai diajak untuk mencari masalah yang ada di sekitar mereka dari hulu ke hilir. Belajar berpikir bagaimana sampah ini bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat untuk menunjang kehidupan makhluk lain.
Memilah sampah dalam kategori organik dan non organik misalnya. Residu sisa makanan, dedaunan kering, kulit buah, dan lainnya bisa diolah menjadi kompos dalam jangka waktu tertentu. Cara mengolahnya pun sangat sederhana, bisa menggunakan barang bekas yang ada disekitar kita. Misal memanfaatkan galon bekas, ember, dan tong bekas. Cara pembuatan kompos ini pernah ada dalam sesi sharing Kulwap di komunitas Sidina, yang sangat menginspirasi, terkenal dengan tagline nya Ibu Penggerak yang sehat, cerdas , dan berdaya.
Peran Untuk Ketahanan Pangan Keluarga
Ketahanan pangan keluarga bukan sekedar urusan dapur tetapi proyek pembelajaran hidup yang menumbuhkan nilai-nilai karakter, kemandirian, dan empati sosial. Dengan mengintegrasikan melalui pembelajaran mendalam (deep learning), anak akan diajarkan sebuah langkah sederhana namun berdampak besar yaitu menanam sayur organik dengan pupuk kompos. Selain menghadirkan pangan sehat, kegiatan ini juga menumbuhkan karakter kemandirian, kreativitas, dan kolaborasi.
Dari Pembelajaran ke Aksi Nyata
Proyek kebun mini kolaborasi anak dan orang tua disini akan menggunakan barang bekas yang ada di rumah. Untuk pembuatan komposnya nanti akan menggunakan tong bekas, galon air mineral atau ember bekas yang ada tutupnya.

Menanam Sayur Menggunakan Barang Bekas (Sumber : www.liputan6.com)
Untuk wadah tanamnya, bisa menggunakan botol air mineral, kaleng susu, atau ember cat bekas. Media tanamnya berasal dari kompos buatan sendiri yang sudah dibuat sebelumnya dari hasil pengolahan sampah dapur seperti kulit buah, sisa sayur, dan daun kering. Air cucian beras digunakan sebagai pupuk alami, juga bisa menggunakan sampah kupasan kulit bawang yang direndam semalam di botol berisi air.
Langkah Kecil yang Berdampak Besar
Proses tanam ini dilaksanakan selama 4–6 minggu. Pada minggu pertama, anak diajak berdiskusi tentang isu ketahanan pangan dan pentingnya mengelola sampah organik. Minggu berikutnya, mereka menyiapkan wadah, media tanam, dan benih sayur yang mudah tumbuh seperti kangkung, bayam, atau tomat
Setiap minggu, anak-anak mencatat pertumbuhan tanaman di jurnal belajar dan mendokumentasikannya dalam foto atau video. Setelah panen, hasil sayur diolah menjadi makanan keluarga, hal ini mengajarkan anak untuk menghargai proses dan hasil kerja sendiri.
Kegiatan ini tidak berhenti pada keterampilan bertani, melainkan menjadi wadah pembentukan karakter. Anak belajar disiplin menyiram tanaman, latihan mendesain pot dari barang bekas, dan berpikir kritis saat menghadapi kendala seperti hama atau tanaman layu. Lebih dari itu, kegiatan ini mempererat hubungan orang tua dan anak melalui kerja sama dan komunikasi yang positif.
Ketika anak-anak tumbuh dengan tangan yang terbiasa menanam dan hati yang mencintai bumi, disitulah pendidikan menemukan makna sejatinya. Bukan hanya mengajarkan ilmu, tetapi menumbuhkan kehidupan.


