Senyum mereka adalah bahagiaku, berbagi takjil

Senyum Mereka adalah Bahagiaku: Berbagi Takjil Ojek Online

Sosial

Ramadan tahun ini terasa lebih istimewa. Bukan karena Ramadan yang bisa kunikmati dengan kemerdekaan waktuku, tetapi juga ada warna lain dalam hidupku.

Sebagai content writer yang sering menulis tentang kehangatan bulan suci, aku ingin berbuat lebih dari sekadar kata-kata di Instagram. Ide itu muncul saat melihat seorang driver Gojek berhenti di pinggir jalan, melepas helmnya sambil menatap langit. Wajahnya letih, tapi matanya penuh harap menanti azan Maghrib. “Kenapa tidak berbagi takjil?” gumamku dalam hati. Takjil sederhana: segelas air atau teh manis hangat, kurma segar, dan sepotong roti. Biaya? Tidak terlalu banyak untuk 20 porsi diawal. Tapi pahalanya? Tak ternilai.

Makna di Balik Sebungkus Takjil

Berbagi takjil kepada pengemudi ojol memiliki esensi yang lebih besar daripada sekadar memberi makan dan minum. Bagi seorang pengemudi yang telah menempuh puluhan kilometer di bawah terik matahari, sebungkus kurma atau segelas air mineral Atau teh manis hangat adalah bentuk pengakuan atas eksistensi dan lelah mereka.

Seringkali, karena mengejar target atau tanggung jawab menyelesaikan pesanan terakhir sebelum berbuka, mereka merelakan waktu berbuka yang tenang bersama keluarga. Dengan memberikan takjil di pinggir jalan, kita membantu mereka membatalkan puasa tepat waktu sesuai sunnah, tanpa harus memarkir kendaraan dan mencari warung yang mungkin sudah penuh sesak.

Lepas ashar aku mulai menyiapkan segala sesuatunya. Kurebus biang teh tubruk, yang konon aromanya lebih kuat dan harum, kurma yang dikupas dari bijinya, roti yang kuoles dengan selai kacang. Aroma manis memenuhi udara, seolah menyapa jiwa yang sedang berpuasa. Kotak styrofoam diisi rapi, lengkap dengan catatan kecil: “Untuk Abang Ojol, selamat berbuka. Semoga rezeki abang lancar selalu.”

Tak perlu mewah, yang penting tulus. Aku pilih lokasi di depan komplek rumah dan cukup ramai lalu lalang pemakai jalan. Saat senja mulai malu-malu menyapa, beberapa driver sudah berkumpul, ponsel di tangan, mata melirik aplikasi.

“Gratis takjil untuk abang ojek!” seruku pelan. Mereka menoleh, awalnya ragu.

“Buat abang-abang ini kok,” tambahku sambil menyodorkan gelas pertama.

“Wah, makasih mbak…alhamdulillah tehnya berasa hangat di perut. Kebetulan saya lagi ngga enak badan” kata Bang Ridwan sambil menyeruput. Matanya berbinar, lelah seolah sirna. Tak lama, antrean terbentuk. Ada Mas Rudi yang cerita, “Hari ini order sepi, perut keroncongan dari tadi.” Takjilku jadi penyelamat.

Langkah Kecil Dampak Besar

Aksi berbagi ini menciptakan efek domino kebaikan. Saat kita memberikan paket takjil dengan senyuman tulus, respons yang kita terima biasanya adalah binar mata yang lelah namun penuh syukur. Ucapan “Terima kasih, Kak, sangat membantu,” atau sekadar klakson singkat sebagai tanda hormat, mampu menghapus penat yang kita rasakan seharian.

​Kebahagiaan itu menular. Melihat mereka tersenyum saat menerima bantuan kecil tersebut memberikan rasa hangat di dada, sebuah kepuasan batin yang tidak bisa dibeli dengan materi. Senyum mereka adalah bahagiaku. Bukan karena pujian, tapi getar hati yang menyaksikan kelegaan di wajah-wajah itu. Ini adalah pengingat bahwa di tengah dunia yang serba cepat dan individualis, empati masih memiliki tempat yang istimewa.

Merajut Tali Persaudaraan

Amalan kecil ini mengajarkanku banyak. Rasulullah SAW bersabda, “Senyum kepada saudaramu adalah sedekah.” Berbagi takjil ojek online membuktikannya. Mereka yang biasa jadi pahlawan tanpa tanda jasa, kini merasakan dirinya dihargai.

Kini, setiap sore, kotak takjil jadi rutinitas. Biaya naik setiap harinya, tapi rejeki datang dari mana-mana. Sponsor kecil dari tetangga, donasi dari teman jauh yang melihat story WAku setiap sore. Yang terpenting, hati tenang. Puasa bukan hanya menahan lapar, tapi juga membuka tangan untuk sesama. Senyum abang ojek adalah pengingat: kebahagiaan sejati lahir dari memberi, bukan menyimpan.

Dengan berbagi takjil, kita sedang merajut kembali tali persaudaraan kemanusiaan yang mungkin sempat renggang karena kesibukan. Kita diingatkan bahwa di balik jaket hijau yang identik itu, ada seorang ayah yang sedang berjuang demi susu anaknya, atau seorang pemuda yang sedang menabung demi pendidikan adiknya.

Di akhir Ramadan nanti, aku ingin ini jadi tradisi tahunan. Karena di balik setiap helm, ada cerita perjuangan. Dan senyum mereka, ya, benar-benar bahagiaku.

Mari kita semua berbagi takjil, walau hanya segelas air. Siapa tahu, itulah cara Allah membuka nurani dan mendekatkan jalan menuju surga Illahi.

((Challenge Menulis IIDN)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *