Menjadi Petani Milenial Dengan Metode Hidroponik

Pertanian

Menjadi petani di wilayah perkotaan tentu menimbulkan beragam pertanyaan di kepala ya … mungkin kah? bagaimana caranya? apakah masih ada lahan selebar sawah yang bisa ditanami?

Coba kita ubah dulu mindset bahwa petani hanya ada di desa-desa. Di kota pun kita bisa menyandang predikat petani lho, petani modern tepatnya.

Lahan pertanian yang kita gunakan untuk bertani di kota tentu saja tidak selebar di desa-desa. Lahan “sawah” yang kita maksud hanyalah sepetak ruang yang ada di luar rumah misalnya balkon, teras rumah dan rooftop. Tidak perlu lahan yang luas untuk bisa menikmati kesegaran tanaman sayur dan buah dari kebun sendiri.

Bagaimana cara menanamnya ?

 Ada beberapa metode berkebun hidroponik yang bisa dilakukan oleh seorang pemula sekalipun.

  1. Sistem wick/sumbu

Metode ini biasanya cocok diminati oleh seorang pemula yang mencoba untuk bertanam hidroponik. Bahan-bahan yang dibutuhkan juga tidak terlalu banyak. Bisa dengan membuat sendiri dari barang bekas seperti gelas bekas air mineral, potongan kain bekas/flannel sebagai sumbu, bak plastik untuk wadah nutrisi atau membeli modul siap pakai yang banyak dijual di market place.

Sistem wick atau sumbu

  1. Sistem DFT (Deep Film Technique)

Metode ini hampIr sama dengan sistem sumbu/wick, perbedaannya terletak pada modul yang digunakan. Para petani milenial biasanya membuat modul menggunakan pipa paralon/pvc yang dipotong sesuai ukuran yang diinginkan. Ada pula yang menggunakan gully trapezium atau talang air yang dilubangi bagian atasnya untuk tempat netpot.

Modul DFT menggunakan sistem pengairan air menggenang (tidak mengalir) setinggi 3-5 cm dari dasar pipa/gully/talang dan tanpa kemiringan dari pipa/gully/talang. Air dan nutrisi dibiarkan merendam sebagian akar tanaman. Modul ini dapat dioperasikan menggunakan atau tanpa pompa kecil.

Sistem DFT

  1. Sistem NFT (Nutrient Film Technique)

Dengan menggunakan peralatan yang sama dengan sistem DFT, metode ini mengalirkan air dan nutrisi tanaman di dalam pipa/gully/talang yang disusun dengan kemiringan tertentu. Sama dengan sistem DFT, modul ini bisa dioperasikan menggunakan atau tanpa pompa kecil.

Hidroponik rumahan

  1. Sistem Dutch Bucket

Sesuai dengan namanya, sistem ini menggunakan bucket atau ember yang diberi lubang untuk tempat aliran air nutrisi ke bak penampungan. Metodenya sama dengan sistem wick, karena tanaman yang diletakkan di dalam netpot akan mendapatkan nutrisinya melalui sumbu kain.

Sistem manakah yang lebih baik ?

Masing-masing sistem yang dijelaskan diatas tentu saja mempunyai kelebihan dan kekurangan. Mulai dari harga modulnya, cara merakit, cara perawatan, dan lainnya. Untuk mendapatkan hasil panen yang bagus dan sempurna, tentu diperlukan pengetahuan yang cukup memadai dan trial secara continue sesuai dengan kondisi lahan di rumah.

Ingin tahu pengalaman penulis dalam berproses menjadi petani milenial ? Yuk ikutin part berikutnya ya…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *